PENDIDIKAN DAN KESADARAN KRITIS
PENDIDIKAN DAN KESADARAN KRITISA
Pendidikan telah banyak mengubah pandangan manusia, pendidikan
secara sistematis telah merasuki bahkan merubah bagian-bagian manusia.
Hanya saja banyak yang disayangkan terkait kesuksesan pendidikan, hal
yang disentuh masih dalam ranah otak kognitif intelektual sehingga
membuat manusia begitu kaku, materialistik, dan kurang atau untuk tidak
menyebut/tidak humanis. Pendidikan telah mengalami proses yang
panjang. Pendidikan merupakan proses transmisi pengetahuan dari satu
orang kepada orang lain atau dari satu gencrasi Ke generasi lainnya, elah
berlansung setua umur manusia itu sendiri.
Proses pendidikan sering terjadi dalam sebuah lembaga, mulai dari
hal vang sederhana mungkin sampai ke arah yang modren sekalipun dalam
hal ini sekolah. Walaupun demikian kita juga tidak bisa menafikan
bahwasanya banyak dari para ilmuan, tokoh panutan, orang cerdas yang
lahir diluar bangku sekolah, akan tetapi lebih dalam faktanya mereka lahir
dari sekolah. Sekolah dalam artian bisa mengoptimalkan otak manusia
untuk melakukan perubahan-perubahan yang berarti. Sains dan teknologi
menjadi ciri penanda dari sebuah pencapaian yang spetakuler.
Hampir selama beberapa generasi, proses pendidikan yang kita
jalankan ternyata tidak lebih dari sekedar pengalihan-pengalihan informasi
dari pendidik kepada peserta didik secara sepihak.Peserta didik selalau
dibebani dengan arus informasi yang bersifat vertikal, tanpa diberi
keleluasaan untuk berkreasi dan melepaskan segenap kemampuan
berpikirnya secara mandiri. Proses pendidikan yang terjadi dalam sekolah-
sekolah kita disadari tidak lagi mencerminkan upaya membebaskan peserta
didik dari ketidakberdayaan, melainkan justru menjadi alat yang
membelenggu kreatifitas dan kebebasanya. Sebagai makhluk sosial
manusia dianggap sebagai makhluk yang memiliki dimensi kebersamaan
dengan orang lain. Teori Psikoanalisa misalnya, menyatakan bahwa
manusia memiliki pertimbangan moral sosial (superego) ketika
dihadapkan pada pilihan-pilhan berperilaku. Sedangkan ilmu humaniora
menjelaskan realitas sosial sebagai sebuah organism hidup dalam bentuk
teori-teori sosial tentang kehidupan manusia dalam bentuk masyarakat.
Dalam buku Pendidikan Popular Membangun Kesadaran Kritis,
menjelaskan tentang pendidikan yang membebaskan.
Menurutnya pendidikan maupun penyelenggaraan proses belajar-
mengajar, pada dasarnya tidak permah terbebas dari kepentingan politik
ataupun terbebas demi melanggengkan sistem sosial ekonomi maupun
kekuasaan yang ada. Jadi, substansi pendidikan tidak lebih dari sebagai
sarana untuk memproduksi sistem dan struktur sosial yang tidak adil
seperti sistem relasi kelas, relasi gender, relasi rasisme maupun sistem
relasi lainnya.Pandangan seperti ini dikenal dengan teori "reproduksi"
dalam pendidikan.
Adapun anggapan dari teori pendidikan yang datang dari kelompok
pendidikan radikal, mereka beranggapan pendidikan adalah proses
"produksi'" kesadaran kritis, kesadaran kelas, kesadaran gender, maupun
kesadaran kritis lainya. Pendidikan merupakan proses pembebasan
manusia dari berbagai bentuk dehumanisasi karena eksploitasĂ kelas,
dominasi gender, maupun karena hegemoni dan dominasi budaya lainnya.
Oleh karena itu pendidikan merupakan suatu sarana untuk "memproduksi"
kesadaran untuk mengembalikan kemanusian manusia, dan dalam kaitan
ini, pendidikan berperan membangkitkan kesadaran ktitis sebagai prasyarat
upaya untuk pembebasan. Pijakan dasar tradisi pendidikan kritis adalah
pemikiran dan paradigma yang secara ideologis melakukan kritik terhadap
Sistem dan struktur sosial, ekonomi dan politik yang tidak adil. Pendidikan
dalam paham ini merupakan media untuk resistensi dan aksi sosial yang
tidak dapat dipisahkan dan merupakan bagian dari proses transformasi
sosial. Pendidikan kritis merupakan proses perjuangan politik. Bagi
penganut pendidikan kritis, ketidakadilan kelas, diskriminasi gender, serta
berbagai bentuk ektidakadilan sosial lainya seperti hegemoni kultural dan
politik serta dominasi melalui diskursus pengetahuan yang merasuk
dimasyarakat, akan terefleksi dalam proses pendidikan. Tugas utama
pendidikan adalah menciptakan ruang untuk mengembangkan sikap kritis
terhadap sistem dan struktur yang diskriminatif terhadap kaum tertindas
dan kaum yang tersingkirkan seperti kaum miskin, kaum buruh, para
penyandang cacat atau mereka yang memilki Kemampuan berbeda, kaum
perempuan, dan anak-anak
Pendidikan Mansour sangat terinspirasi oleh pemikiran Paulo Freire,
dimana pendidikan adalah proses pembebasan dan pendidikan adalah
proses membangkitkan kesadaran kritis. Pendidikan pasif yang melanda
praktik pendidikan tradisional yang melanda dunia pendidikan. Freire
menganggap bahwa pendidikan pasil sebagai mana dipraktikan pada
umumnya melanggengkan sistem relasi penindasan. Freire mengkritik
sistem yang demikian yang disebutnya sebagai pendidikan "gaya bank"
dimana guru bertindak sebagai penabung yang menabung informasi
sementara peserta didik dijejali informasi untuk disimpan. Sistem
pendidikan yang pernah ada dan mapan selama ini dapat diandaikan
sebagai sebuah "bank (banking concept ofeducation) dimana peserta
didik diberi ilmu pegetahuan agar ia kelak dapatmendatangkan hasil
dengan lipat ganda. Jadi peserta didik adalah objek investasi dan sumber
deposito potensial, jadi pendidik adalah subjek yang aktif sedangkan
peserta didik adalah objek pasif yang penurut. Freire menyusun daftar
antagonisme pendidikan "gaya bank'" itu sebagai berikut:
1. Guru mengajar, murid belajar.
2. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa.
3. Guru berpikir, murid dipikirkan.
4. Guru bicara, murid mendengarkan.
5. Guru mengatur, murid diatur.
6. Guru memilih dan memasaksakan pilihannya, murid menuruti.
7. Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai
dengan tindakan gurunya.
8. Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri.
9. Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang
profesionalismenya, dan mempertentangkannya dengan kebebasan
murid.
10. Guru adalah subjek proses belajar, murid objeknya.
Freire tidak setuju dengan proses pendidikan seperti itu, yang
disebutnya sebagai pendidikan tradisional "gaya bank" dimana pendidik
menstransfer pengetahuan (knowledge) kepada peserta didik. Pendidik
sebagai subjek sedangkan peserta didik sebagai objek. Dia mengingatkan
bahwa praktik pendidikan "gaya bank" adalah praksis dominasi yang
mendomestikasikan peserta didik sebagai sasaran pengetahuan. Dia
mengharapkan bahwa realitas dan pengetahuan harus diproblematisasikan,
meskipun problematisasi merupakan ruang tunggu transformasi, bukan
solusi (problem solving).
Komentar
Posting Komentar